Image default
Akuntansi

Mengenal Apa itu Biaya Rata-Rata serta Cara Menghitungnya

Jika Anda termasuk orang-orang yang telah berkecimpung lama dalam dunia produksi, pasti Anda sudah sangat akrab dengan istilah biaya rata-rata. Meskipun demikian, tak semua orang belum tentu memahami seluk beluk biaya rata-rata ini. Biaya rata-rata adalah biaya yang penting dalam proses produksi. Penjelasannya akan kita ulas.

Biaya rata-rata juga sering disebut dengan average cost. Nah, untuk mengulas pengertian hingga cara menghitungnya, karena masih banyak pebisnis yang tidak bisa menghitung biaya rata-rata. Padahal biaya rata-rata adalah biaya yang perlu di hitung dan terdapat di laporan keuangan.

Pengertian Biaya Rata-Rata

Biaya rata-rata atau average cost merupakan keseluruhan jumlah biaya yang dikeluarkan pada proses produksi yang kemudian dibagi dengan perolehan output. Biaya ini juga dikenal dengan istilah Average Total Cost (ATC).

Secara keseluruhan, jenis biaya yang satu ini bertujuan untuk mengukur jumlah biaya yang harus dikeluarkan dalam memproduksi setiap unit produk atau output. Bagi pelaku usaha, hal ini penting untuk dilakukan untuk menetapkan harga produk. Jika harga yang ditetapkan berada di bawah nilai ATC maka bisnis akan mengalami kerugikan.

Dengan memahami ATC juga akan membantu perusahaan Anda dalam mengetahui pola hingga estimasi biaya jangka panjang yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Sebut saja munculnya fluktuasi biaya hingga upaya-upaya efisiensi proses produksi.

Baca Juga: Ternyata Berbeda! Perbedaan Akuntansi dan Keuangan

Rumus Biaya Rata-Rata

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, average cost adalah biaya per unit produksi yang dihitung dengan membagi total biaya produksi dengan total unit yang diproduksi. Berdasarkan definisi tersebut maka rumus dari biaya rata-rata ditetapkan sebagai berikut:

Biaya Rata-Rata = Total biaya produksi/Jumlah unit yang diproduksi

Biaya rata-rata juga dimasukkan ke dalam persamaan bahasa Inggris yang ditulis seperti berikut:

AC = TC/Q

AC : Average cost

TC : Total cost

Q : Quantity atau jumlah total unit yang diproduksi

Cara Menghitung Biaya Rata-Rata

Menentukan biaya produksi tetap

Untuk menemukan komponen dari biaya tetap atau fixed cost ini, Anda bisa mengecek buku laporan tahunan perusahaan. Adapun beberapa contoh dari biaya produksi tetap ialah premi asuransi, biaya setup, depresiasi, biaya penjualan hingga biaya sewa.

Mencari biaya variabel produksi

Seperti halnya biaya tetap, biaya variabel juga dapat Anda temukan di dalam laporan laba rugi perusahaan. Adapun yang dimaksud dengan biaya variabel ialah jenis biaya yang jumlahnya tergantung pada hasil produksi. Beberapa contoh dari biaya variabel ini di antaranya seperti biaya bahan baku, upah pekerja, kemasan produk serta biaya-biaya lainnya yang terkait langsung dengan produksi perusahaan.

Menjumlahkan total biaya tetap dan biaya variabel

Setelah Anda mendapatkan jumlah biaya tetap dan biaya variabel, selanjutnya Anda bisa menjumlahkan kedua biaya tersebut untuk mendapatkan keseluruhan biaya total produksi. Berikut formula yang bisa Anda gunakan.

Biaya total produksi = Biaya tetap + Biaya variabel

Memeriksa kuantitas unit yang diproduksi

Karena pembagi yang terdapat di dalam perhitungan biaya rata-rata adalah jumlah total unit yang diproduksi maka Anda pun perlu memeriksa kembali angka tersebut.

Cara untuk mengetahui kuantitas unit yang diproduksi bisa dengan mengecek faktur atau langsung menemui pihak akuntansi perusahaan. Jika proses produksi dijalankan dengan cara maklun maka Anda bisa menghubungi bagian pabrik yang memproduksi unit tersebut.

Baca Juga: 14 Jenis Bidang Akuntansi dan Penjelasan Lengkapnya

Menghitung Biaya rata-rata

Biaya Rata-Rata Adalah dan Cara Menghitungnya
Source: https://www.unleashedsoftware.com/

Setelah mengetahui langkah-langkah di atas, sekarang Anda pun sudan bisa menghitung biaya rata-rata. Agar Anda bisa mendapatkan gambaran yang lebih detail lagi maka silahkan memperhatikan contoh perhitungan biaya rata-rata berikut ini.

Contoh perhitungan biaya rata-rata

Sebagai contoh, Anda memiliki usaha minuman secara online. Setelah mengecek laporan laba rugi usaha, Anda pun mendapatkan total biaya tetap dan biaya variabel untuk memproduksi minuman tersebut sebesar 5 juta rupiah.

Nilai biaya total produksi tersebut ternyata mampu menghasilkan 357 buah minuman. Lalu, berapakah biaya rata-rata atau average cost dari produksi minuman tersebut?

Biaya rata-rata = Total biaya produksi/Jumlah unit yang diproduksi

= Rp5.000.000/357unit

= Rp14.005/unit

Nilai Rp14.005 tersebut kemudian bisa Anda jadi rujukan saat menentukan harga jual. Untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal maka Anda perlu menjual produk minuman tersebut di atas biaya rata-rata yang telah didapatkan sebelumnya.

Meskipun demikian, biaya rata-rata bukanlah satu-satu faktor penentu terhadap harga jual produk. Pada dasarnya, terdapat komponen-komponen lain yang perlu Anda pertimbangkan dan perhitungkan seperti tentang persediaan hingga pembelian.

Biaya Total Rata-rata dan Biaya Variabel Rata-rata

AVC atau Average Variabel Cost mengacu kepada biaya varibel total per unit. Berbeda dengan average total cost di mana biaya variabel rata-rata tidak termasuk ke dalam biaya tetap. Bagian ini hanya mencakup biaya yang berubah dengan output, sebut saja biaya tenaga kerja langsung serta bahan baku.

Umumnya, biaya variabel rata-rata akan turun ketika output meningkat dari nol ke kapasitas normal. Namun, jika Anda bergerak melebihi kapasitas normal maka AVC pun akan meningkat tajam akibat terjadinya operasi pengambilan yang semakin berkurang.

Kelebihan serta kekurangan metode biaya rata-rata

Biaya rata-rata atau average cost memiliki kelebihan yang bisa dilihat dari proses produksi barang perusahaan dengan karakteristik yang sangat mirip dan dengan jumlah yang besar.

Daripada repot-repot untuk melacak setiap unit dan biaya satuannya, perusahaan bisa mengambil biaya rata-ratanya saja. Metode ini sering digunakan dalam perhitungan bahan baku. Bahan baku umumnya perlu dikelola dengan menggunakan metode biaya rata-rata. Pasalnya, jenis biaya yang satu ini tergolong sangat fluktuatif. Perusahaan akan mengeluarkan biaya yang terus berubah-ubah sesuai harga pasar yang sedang berlangsung.

Dengan kondisi seperti ini, maka menggunakan metode biaya rata-rata bisa menjadi solusi dalam pengelolaan anggaran perusahaan Anda. Namun, Anda perlu mengetahui bahwa konsep biaya rata-rata ini tidak bisa diterapkan pada semua jenis bisnis.

Sebagai contoh, jika unit barang sangat berbeda maka perusahaan akan kesulitan melakukan perhitungan rata-rata secara identik. Terlebih, jika barang tersebut termasuk ke dalam jenis barang langka, mahal dan unik seperti perhiasaan atau perabot antik. Jika Anda menggunakan biaya rata-rata dalam proses perhitungannya maka hasilnya tentu akan berbeda-beda. Tak hanya itu, penetapan biaya rata-rata juga tak relevan ketika biaya produksi cenderung naik atau turun.

Maka resiko yang akan Anda hadapi saat menerapkan metode ini ialah terjadinya ketidakakuratan pada laporan keuangan perusahaan. Hal tersebut terjadi karena biaya yang digunakan selama periode tersebut sangat fluktuatif.

Baca Juga: Penting! 5 Prinsip Akuntansi Modern yang Harus Dipahami Pemilik Bisnis

Penutup

Dari artikel di atas maka dapat disimpulkan bahwa biaya rata-rata adalah jumlah total biaya yang dikeluarkan pada saat proses produksi dibandingkan atau dibagi ke dalam jumlah total unit yang diproduksi.

Proses perhitungan biaya rata-rata ini pada dasarnya cukuplah mudah. Anda bisa mengikuti rumus dan cara hitung yang telah kami paparkan dalam artikel ini. Namun, jika Anda masih ragu terlebih Anda bukanlah seorang akuntan maka cobalah menggunakan software akuntansi dari Accurate Online.

Tak hanya untuk menghitung biaya rata-rata, aplikasi ini juga memiliki beragam fitur transaksi keuangan lainnya yang pasti Anda butuhkan. Jika Anda tertarik, yuk langsung saja mengunjungi Halaman Accurate Online mitramandiri.id.

Related posts

Fungsi dari Software Akuntansi dalam Mendukung Kegiatan Bisnis

admin

Software Pembukuan Konter Pulsa Gratis, Juga Untuk Jenis Usaha Lainnya

admin

4 Kendala Proses Akuntansi yang Sering Terjadi Pada Pebisnis UKM

Iskandar Rumi